LOGO
Metta Media Metta News Pemerintah Imbau Pengusaha Cari Alternatif Produk di Luar China

Pemerintah Imbau Pengusaha Cari Alternatif Produk di Luar China

Tuesday, 10 March 2020 - 08:41


VOA INDONESIA, METTA NEWS - Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan China merupakan mitra dagang yang penting bagi Indonesia. Namun para pengusaha perlu mengantisipasi dampak yang akan timbul dari penyebaran virus corona baru di China. Salah satunya yaitu mencari alternatif negara lain untuk tujuan negara ekspor dan impor bagi sejumlah komoditas yang memiliki ketergantungan dengan China.

Sementara untuk barang-barang impor yang memiliki ketergantungan dengan China yaitu laptop, bawang putih, buah pir dan personal komputer; Agus berharap produksi yang bahan bakunya dari China tidak terganggu jika pasokan nantinya terganggu karena terdampak virus corona. Agus menambahkan Kementerian Perdagangan juga terus berkoordinasi dengan KBRI di Beijing untuk memantau lebih jauh dampak perdagangan Indonesia-China. Termasuk meminta perwakilan kebijakan dan kinerja perdagangan China.

"Kementerian Perdagangan juga akan memastikan tidak ada larangan impor dari China, selain larangan sementara impor hewan hidup. Ini sudah kami terbitkan aturannya," terang Agus.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2020, total nilai perdagangan Indonesia dan China mencapai USD 72,82 miliar pada tahun 2019. Neraca perdagangan Indonesia dengan China mengalami defisit sebesar USD 17 miliar pada tahun 2019, terdiri dari defisit non migas sebesar USD 18,7 miliar, dan surplus migas sebesar USD 1,7 miliar.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal menilai, wabah virus corona di China dapat semakin melemahkan potensi pertumbuhan ekonomi nasional yang tahun ini diperkirakan 4,9 persen. Salah satu penyebabnya adalah turunnya impor China dari Indonesia seiring berhentinya sejumlah produsen di Wuhan.

Karena itu menurutnya perlu stimulus kebijakan fiskal di dalam negeri baik fiskal dan nonfiskal untuk mendorong konsumsi dan produksi dalam negeri. Pemerintah juga perlu menjaga daya beli dan tingkat konsumsi masyarakat dengan tidak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dapat memicu kenaikan biaya hidup.

"Di luar konsumsi rumah tangga dan ivestasi, belanja pemerintah juga sekarang sangat seret kalau kita melihat drop-nya penerimaan negara baik pajak maupun nonpajak. Dan terakhir adalah perdagangan," tutur Mohammad Faisal.

Faisal juga menyarankan pemerintah melalui BUMN untuk membeli produk-produk dalam negeri untuk menguatkan ekonomi nasional.

Share:
IMG