LOGO
Metta Media Metta News Radikalisme Sasar Milenial, Keluarga Jadi Benteng Utama  

Radikalisme Sasar Milenial, Keluarga Jadi Benteng Utama  

Tuesday, 04 May 2021 - 11:36


SOLO, Metta NEWS - Kasus-kasus radikalisme yang kembali muncul belum lama ini membuat tercengang banyak pihak. Bagaimana tidak? Kasus yang paling baru adalah teror di Gereja Katedral Makassar Sulawesi Selatan dan penyerangan Mabes Polri mengungkap fakta-fakta baru. Yang paling menjadi perhatian adalah pelaku pada dua kasus tersebut adalah milenial dan masih berusia antara 25-26 tahun. 


Menyikapi kondisi tersebut, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta bersama Polda Jawa Tengah dan Yayasan Gema Salam mengadakan acara Ngabuburit dan Silahturahmi dengan tema “Membendung Radikalisme di Kalangan Anak Muda”. 


Sebagai penyampai materi dan sharing informasi, panitia menggandeng Dr Amir Mahmud (Direktur Amir Mahmud Center), Jack Harun ‘Soto’ (eks napiter) dan beberapa eks napiter seperti Joko Suroso ‘Padang’, Hasan Al Rosyid, Kristianto (mas Abe) dan Narno . Diskusi bertempat di Adhiwangsa Hotel Solo, Senin (3/5). 


Eks napiter (narapidana terorisme) Joko Suroso atau yang dikenal dengan nama Joko Padang membagikan kisahnya bagaimana dirinya bisa bergabung dengan jaringan radikalisme. Joko Padang mengungkapkan awal mula dirinya direkrut dari pertemuan-pertemuan yang sering diadakan di warung Padang yang dikelolanya.  Sebagai pengelola warung Padang di Semarang, tempatnya dijadikan pertemuan untuk para akhwan dan menjadi tempat rapat Nurdin M Top dan Dr Azahari. 


“Waktu bom Bali rapat jaringan Semarang di situ. Pada awalnya saya hanya ingin belajar dan mengamalkan ilmu agama Islam, tidak ada rasa ingin meneror memukul orang saja saya tidak pernah. Dari rapat-rapat itu terus dibangkitkan rasa sentimen karena agresi Amerika ke Afganistan dan Iran. Itu menggugah semangat kami dan bersepakatan untuk menyerang. Walaupun beberapa dari kami bukan pelaku langsung tapi kami membantu dengan kemampuan masing-masing”, urai Joko Padang yang di menjalani hukuman 10 tahun untuk kasus bom Bali ini. 


Joko yang disebut pernah menyembunyikan keberadaan kedua tokoh besar teroris tersebut mengatakan untuk membendung paham radikal ini tidak cukup dengan seminar dan kajian. 


“Ini mungkin acara global untuk menyampaikan, ini PR yang sangat besar dan butuh waktu lama tidak bisa instan karena keyakinan ini adalah doktrin. Keluarga jadi benteng utama karena mereka mengenal dengan baik karakter anaknya sehingga bila ada perubahan negatif orang tua harusnya langsung tahu dan mewaspadai”, tandas Joko Padang. 


Joko Padang berpendapat saat ini terjadi pergeseran radikalisme. Joko menyebut 10 tahun lalu konsep-konsep terorisme sasarannya adalah orang asing tidak seperti saat ini yang menyasar siapapun yang dianggap berseberangan paham. 


“Orang tua punya tugas penting untuk mengawasi anaknya. Radikalisme ini tidak pandang bulu, yang pemahaman agamanya sangat bagus, anak polisi bahkan polisi saja bisa terpengaruh. Keluarga menjadi dasar pertama untuk menangkal paham radikalisme ini”, kata Joko Padang. 


Menanggapi sharing dari beberapa eks napiter ini, Direktur Amir Machmud Center (AMC), Dr Amir Machmud juga melihat jika paham radikalisme sudah menyusup ke semua kalangan. 


“Paham radikalisme ini tidak akan hilang mengingat ini adalah ideologi. Tugas kita cukup berat untuk menangkalnya tapi pasti bisa, terutama lewat keluarga yang kuat dulu”, terang Amir Machmud. 


Amir menyebut semua kalangan memungkinkan untuk disusupi paha ini tidak melihat apakah itu pelajar, mahasiswa, ASN, dosen hingga polisi.  


Sementara itu, Direktorat Intelkam Polda Jateng, Kombes Pol Jati Wiyoto Abadi mewakili Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ahmad Luthfi mengapresiasi kegiatan diskusi dan sharing pengalaman tersebut.


Kombes Pol Jati Wiyoto menambahkan perlu sinergi antar pihak dan stakeholder untuk membendung radikalisme dan terorisme di Tanah Air.


“Butuh dukungan semua pihak. Tugas Polri tidak hanya sebagai penegak hukum saja, namun juga membangun sinergitas untuk membendung terorisme. Salah satunya lewat kegiatan seperti ini, meskipun sederhana kita bisa berbuat untuk negara dan bersama-sama memerangi radikalisme dan terorisme”,  ujar Kombes Pol Jati. (*ita)

Share:
IMG